Manusia, dilahirkan bersama hal lain di dunia ini. Saat terlahir, ada orang tua, ada tanah, rumah, ilalang, sayur dan bebatuan. Semuanya ada dan hadir kepadanya, tidak jau di hadapannya, bahkan mentari pun telah mengetauinya. Ketika seseorang mengenal lingkungannya, dia bagaikan sebuah benih tumbuhan, tumbuh menyerap sari kehidupan dari lingkungannya dan tumbuh semakin besar, semakin terbukti ada di lingkungannya.
Semakin dia akar kepedulian dan perhatiannya menyentuh lingkungan, pohon dirinya akan tumbuh semakin besar. Dia semakin mudah memperoleh makanan jiwa dan kebahagiaan. Berbekal makanan jiwa yang diperoleh dan dimasak dengan cahaya ilahi, maka makanan jiwa itu terolah menjadi makanan sangat enak dan kesejukan tiada tara. Semaki hari, dia semakin besar dan semakin banyak orang dapat melihat bahwa dia ada.
Berbeda jika sebuah tumbuhan tidak mau menumbuhkan akar perhatian dan kepedulian ke lingkungannya,maka dia akan selalu kekurangan makanan jiwa dan tidak dapat menghasilkan kesejukan baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Dia tumbuh kerdil dan mungkin segera menemui akhir jaman atau kepunahan sebagaimana pohon cabai.
Kini, kita balik proses untuk mengetahui bagaimana sebuah pohon mati di lingkungan yang banyak air dan subur. Jika kita menjumpai tanaman mati di lingkungan yang demikian, maka tentu kesimpulan kita adalah bahwa dia tidak berakar atau dia tercabut dari bumi pijakannya.
Kita kaitkan dengan seseorang. Dalam masyarakat, ada orang bahagia dan ada orang menderita. Orang bahagia tentunya mencarikan bahwa di lingkungan itu ada makanan jiwa dan ada cahaya untuk memasak makanan jiwa. Bagaimana jika sampai ada orang menderita? Bukankah kondisi ini mencirikan sebagaimana tanaman yang menderita atau tidak tumbuh di tanah yang subur dan cukup air? Jika ada orang menderita di suatu lingkungan yang ada orang bahagianya, artinya dia tidak memiliki akar kepedulian dan perhatian kepada lingkungannya. Atau, dia tercabut dari bumi pijakannya.
Salam bahagia
