Oleh Putu Swastawa
Pemahaman ini bermula dari yang disebut catur purusa artha atau empat hal yang menjadi milik purusa:
- Dharma
- Artha
- Karma / Kamma
- Moksha
Perlu diketahui bahwa hal ini adalah hal pasti seorang yang berpurusa atau ber-diri manusia. Guru dan orang tua di awal masa belajar murid atau orang tuanya mengupayakan saja agar murid atau anaknya memperoleh purusa atau sang diri.
Purusa ibarat sopir dan badan ini ibarat kendaraan. Purusa adalah yang mengalami semua yang dijumpai oleh badan ini. Purusa yang diupayakan oleh sang guru atau orang tua adalah purusa manusia, yang dengan sendirinya memahami dan memiliki catur purusa artha. Jika purusa kita adalah manusia, maka kita akan bergerak sebagaimana manusia, sang purusa kehidupan utama di dunia, yang menjalankan tugas sebagaimana dharma, yaitu ketentuan penciptaan semesta.
Purusa tercapai atau terlahir ketika seseorang dapat melihat dirinya sendiri di dalam dunianya sendiri yang nantinya akan menjadi surga baginya. Dunia ini disebut oleh hindu-bali sebagai buana alit, disebut pararel-world oleh orang berbahasa inggris. Dunia ini secara langsung bermula dan disinari oleh sang penerang sejati ( sang hyang widhi ) atau tuhan atau god. Dunia ini sangat indah dan selalu terang. Dunia ini selalu terlihat oleh semua orang dan dialami semua orang sebagai mimpi. Oleh karena hal ini nyata maka mimpi memang dapat diingat oleh semua orang.
Pendidikan sangat menentukan apakah purusa itu akan memiliki sifat manusia atau bukan. Purusa tampak dari kesenangan dan hal-hal yang membahagiakan seseorang. Di sinilah peran orang tua atau guru intinya adalah membiasakan seorang murid atau anak menyukai dan berbahagia dengan sifat-sifat sang pencipta.
Ketika terbentuk kebahagiaan dengan sifat-sifat sang pencipta ( karena manusia yang bisa berkarma dan menjadikan semuanya ada ) maka purusa ‘terlahir’. Purusa ini memiliki sifat yang sama persis walaupun ada di badan yang tampak terpisah-pisah dari orang – ke orang dan dari jaman ke jaman. Inilah yang menjadikan sang purusa disebut satu, karena sifat-sifat dan tujuannya sama namun secara tampak di indera, dia tampak berbeda ( bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa : berbeda dan satu, dharmanya hanya satu tidak ada yang mendua ).
Ketika dia merasa ada di dunia yang disebut bhuana alit itu, kini dharmanya adalah mempelajari atau mengetahui apa yang patut diketahuinya. Kini dia melihat semua yang ada di dunia itu, melihat hingga sejauh-jauhnya dalam penerangan cahaya paling terang dari sang penerang sejati, seagaimana kita melihat bukit dan awan yang sangat jauh dalam penerangan matahari. Setelah melihat semuanya, dia kini berkeputusan ’saya ingin ke tempat itu, kemudian ke tempat itu, …. ‘. Ini adalah tujuan perjalanan atau artha.
Kemudian, manusia mempersiapkan semuanya ( ber-karma atau ber-kamma ). Berkarma ini dalam kehidupan bhuana alit berarti sudah melakukan perjalanan. Semua hal yang dilakukan di dunia ini sama dengan langkah sang purusa di bhuana alit-nya. Karma ini harus diartikan sebagai semua hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan hidup ( artha ).
Ketika karma dilakukan sepenuhnya maka sebuah ‘rencana’ telah terwujud atau diketahui secara utuh. Karena sudah terwujud atau diketahui secara penuh, maka cahaya tuhan itu akan menjadi milik sendiri. Ini adalah kebahagiaan puncak dari sebuah perjalanan kehidupan dan disebut dengan moksha.
==
kehidupan kekal manusia dinyatakan dengan jumlah cahaya tuhan yang berhasil dimilikinya secara utuh. Jika dalam perjalanan kehidupan ini dia dapat menerima semua jenis cahaya tuhan dan akhirnya semua cahaya tuhan dapat dimilikinya, maka dia identik dengan tuhan atau sang hyang widhi.
==
Salam bahagia